Demi Sebuah Masa Depan by applausr

Demi Sebuah Masa Depan by applausr

Saya mau tanya.

Kira kira masih ada tidak mahasiswi semester akhir yang kalau ditanya cita citanya, lalu menjawab dengan lantang akan menjadi Ibu Rumah Tangga? ☺ Perkiraan saya sementara ini, mungkin tidak akan ada satu mahasiswipun yang akan menjawab dengan profesi itu.

Kenapa juga harus susah susah sekolah tinggi tinggi kalau ternyata hanya tinggal di rumah, mengasuh anak dan seharian cuma berdaster ria. ☺ Diperparah lagi dengan kenyataan kalau perempuan yang berprofesi menjadi Ibu Rumah Tangga itu tidak berpenghasilan dan akan sepenuhnya tergantung kepada suami.

Betul, kehidupan seorang Ibu Rumah Tangga benar benar sangat tergantung kepada suami. Ada kekuatiran kalau terjadi apa apa dengan suami maka penghasilan yang selama ini diterima akan hilang setika itu juga. Kondisi seperti ini akan mengembalikan perempuan menjadi kaum yang lemah tanpa daya. Tentunya jaman sekarangkan sudah ada asuransi kalau hanya ngomongin soal dana, tapi kenyataannya apakah semua itu cukup.

****

Terus bagaimana dengan idealisme perempuan jaman sekarang yang cita citanya juga ingin berkontribusi nyata dalam kehidupan bermasyarakat dan tidak sekedar berada di belakang dapur, memasak dan membesarkan anak saja.

Bagaimana mungkin sekarang seorang Ibu Rumah Tangga yang sehari harinya habis di rumah dan berteman hanya dengan tukang sayur yang lewat, dapat ditanya mengenai pencapaian pribadi perihal berkontribusi pada masyarakat banyak.

Ya betul, hidup itu harus berguna dan bermanfaat buat orang lain atau setidak tidaknya bisalah berkontribusi kepada masyarakat. Jika sudah seperti itu, profesi sebagai Ibu Rumah Tangga terlihat seakan akan tidak mampu mengakomodasi perempuan untuk berbuat secara langsung. Karena waktunya saja sudah habis diisi dengan memasak, mengasuh anak, dan mengurusi suami yang kadang juga terkanak kanakan. ☺

Di zaman emansipasi wanita seperti sekarang ini, dimana sudah terbuka luas peluang bagi seorang perempuan untuk memilih jenis pekerjaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keinginannya. Tidak jarang pekerjaan kasar lelakipun mulai pelan pelan dikerjakan perempuan.

Perempuan masa kini seakan-seakan secara serentak mengatakan bahwa sekarang sudah tidak zamannya untuk tinggal di rumah lalu kesehariannya hanya diisi dengan menyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, masak dan ngasuh anak dan suami.

Perempuan perlu menunjukan jati dirinya sebagai bagian dari masyarakat untuk dapat berkontribusi secara langsung. Get our hand dirty istilahnya.

****

Perempuan yang saat ini sedang melakoni profesi di luar rumah, dengan suka rela akan mendelegasikan semua pekerjaan ‘kasar’ itu kepada pembantu atau baby sitter. Hitung hitung membantu pemerintah dalam menanggulangi penganguran.

Bagaimaana dengan anak? Masa tega meninggalkan anak hanya dengan baby sitter saja. Tidak takut dikasih obat tidur dan dipertontonkan film film yang tidak bermutu dirumah.

Dengan cepat pertanyaan macam itu akan dijawab dengan argumen seperti ini, ‘Jeng… hari gini tuh ada yang namanya teknologi dan bisa membantu perempuan bebas dari perasaan takut seperti itu. Tinggal pasang saja cctv di rumah, dan semua urusan dan masalah mengenai baby sitter selesai sudah’.

Terus bagaimana dengan kebutuhan anak akan perhatian dari Ibunya? Itu juga lagi lagi dapat dijawab dengan mudah, ‘yang penting itu kualitas bukan kuantitas, jadi kalau weekend sediakan saja waktu buat anak anak dan keluarga sebaik baiknya.

Banyak sekali, jawaban jawaban dari seorang perempuan yang sudah betah berkarir untuk menghindari pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga.

Padahal kalau direnungkan dengan baik, sebagian besar orang yang sukses hari ini, telah dibesarkan dari tangan perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga.

****

Pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga memang sudah mulai ditinggalkan oleh kaumnya. Tak jarang, akhirnya lelaki juga yang harus menggantikan posisi sebagai Bapak Rumah Tangga.

Kalau mau direnungkan dengan baik, menjadi Ibu Rumah Tangga itu dapat melepaskan perempuan perempuan pekerja dari sebuah ‘penjara’. Sebuah penjara yang bernama Penjara kerja.

Terpenjara gimana maksudnya?

Coba tanya sama lelaki-lelaki yang bekerja. Seberapa bahagiakah mereka dengan pekerjaan yang sedang dilakoninya? Apakah pekerjaan sekarang ini sudah sesuai dengan passion mereka atau hanya keterpaksaan saja? Apakah sang suami mengerjakan pekerjaannya dengan setulus hati atau hanya supaya dapur ngebul saja. Berapa banyak yang merasa terpenjara seperti itu?

Dengan menjadi Ibu Rumah Tangga maka kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang disenangi dan cocok dengan hati terbuka lebar di depan mata.

Tapi tentunya itu semua berpulang kepada pilihan dan perasaan masing masing.

Disini saya hanya ingin mengangkat kembali profesi yang dulu begitu mulia dan pelan pelan mulai ditinggalkan oleh sebagian perempuan.

Untuk melihat lebih dekat seperti apa keseharian seorang perempuan yang menjadi Ibu Rumah Tangga. Saya akan postingkan hasil interview saya dengan seorang teman yang memilih untuk mengabdikan dirinya menjadi Ibu Rumah Tangga.

Tapi seperti biasa, di tunggu hari kamis ya…

____________________________________________________________________________________________________________

Penulis:

Applaus Romanus, Bukan siapa siapa. Tapi ada satu hal yang ia tahu pasti, bahwa hidupnya harus berguna buat orang lain.

____________________________________________________________________________________________________________

Tagged with:
 

45 Responses to Profesi Ibu Rumah Tangga Tersisihkan

  1. Dewi Anggraeni says:

    IRT adalah suatu profesi, sama beratnya dengan profesi-profesi yang lain. Bedanya, IRT berkantor di rumah, sementara profesi yang lain berkantor di luar rumah. Produk yang dihasilkan IRT (anak yang bertanggung jawab dan punya disiplin diri) juga akan optimal apabila disertai komitmen dan keikhlasan dari si ibu sendiri.Saya rasa tidak perlu lagi ada dikotomi mana yang lebih baik, menjadi IRT atau tidak.

    Ibu saya adalah seorang perempuan pekerja yang mampu menjaga kualitas hubungan dengan anak-anaknya. Saya terinspirasi menjadi perempuan pekerja berkomitmen tinggi seperti dia. Kini saya memiliki ibu mertua yang berprofesi sebagai IRT yang juga berkomitmen tinggi atas profesinya (hal itu nampak dari ‘produk’ yang ia hasilkan, yaitu suami saya :D ) Jadi, saya bisa membandingkan dua sosok perempuan hebat yang memilih jalannya masing-masing dan berkomitmen atas pilihannya.

  2. lalalalilili says:

    Menurut saya ga selalu anak yang diasuh IRT jadi lebih baik daripada anak yang diasuh ibu bekerja, sebaliknya juga sih. Tergantung si ibu masing2. dan ya jadi IRT atau bekerja itu pilihan.
    tapi saya punya pertanyaan pada para IRT, sebelumnya maaf kalau menyinggung, cuma saya benar2 penasaran aja.
    1. kalau ada apa2 dengan suami misalnya (meninggal saat anak2 masih kecil, dll, kebetulan saudara saya ada yang mengalami ini) itu bagaimana? Apakah pernah terpikir? Atau mungkin sudah siap dengan dana asuransi yang cukup? Atau ada bisnis yang diurus dari rumah? Istri saudara saya tersebut akhirnya hidupnya ditanggung oleh saudara yang lain yang kebetulan berkelebihan, mungkin Allah kasih rejekinya memang dari tangan saudara itu, tapi dalam pandangan saya tentu seorang ibu (janda) yang berjuang menafkahi anaknya sendiri akan lebih terhormaat dan sangat membanggakan buat anaknya sendiri dan si anak juga bisa lebih mandiri. saya tahu tidak perlu khawatir karena rejeki sudah diatur sama Allah, tapi dalam pandangan saya, ya tetap harus dicari/dijemput bukan? dan sedia payung sebelum hujan juga penting.
    2. Kalau jadi IRT, terkait dengan yang tadinya berpenghasilan sendiri dan menjadi tidak berpenghasilan kecuali dari suami, apakah pernah terpikir misalnya tadinya bisa ‘nyeneng2in’ ortu dengan uang sendiri tapi setelah jadi IRT jadi lebih terbatas karena sudah tidak berpenghasilan sendiri? Maksud saya jika kita mau melakukan pengeluaran untuk keluarga kita sendiri (ortu atau adik yang masih sekolah,dll), saat masih bekerja tentu masih bebas, dan ketika sudah jadi IRT bagaimana? Mengurus keluarga memang penting, tapi berbakti pada ortu bukankah juga ga kalah penting? Ya tentu ga masalah kalau ortunya sangat mandiri secara finansial, sehat, dsb atau si suami dari IRT ini sangat memberikan kebebasan atau bahkan ‘jatah’ untuk keluarga si istri.

    Mungkin ada pengalaman2 menarik yang bisa di-share?

    Thanks

  3. PakOsu says:

    Pak de saya berhenti jadi pegawai pos demi anak-anaknya. Dia relakan istrinya berkarir jadi guru sd. Salut pak de…

  4. Alris says:

    Tergantung pilihan masing-masing pasangan asal saling mendukung. IRT sejati juga profesi mulia.

  5. JNYnita says:

    Aku mau mengasuh anak sepenuhnya, tp mau jg bekerja, hhhmm.. mungkin nanti buka praktekan di rumah aja kali ya..

  6. DV says:

    Aku merasa setiap wanita yang punya anak, perlu menjadi ibu rumah tangga setidaknya selama lima tahun pertama usia anak-anaknya. Kenapa? Dalam lima tahun itu, anak-anak belajar banyak hal untuk pertama kalinya, dan orang tua, utamanya Ibu yang melahirkan, adalah orang yang paling tepat untuk mengajarinya!

    Sesudah itu, ketika anak harus masuk sekolah, kupikir ibu bebas untuk masuk kerja lagi dan menempuh karirnya karena setiap orang toh punya dan bebas bercita-cita dan melanjutkan cita-cita :)

  7. marsudiyanto says:

    Istri saya 100% ibu rumah tangga yang tak punya pekerjaan tetap di luar rumah, tapi memang sudah dirembug sejak pertama kali menikah. Dua anak saya terawasi langsung dan saya jadi tenang setiap keluar rumah untuk bekerja.

  8. [...] Profesi Ibu Rumah Tangga Tersisihkan [...]

  9. aryadevi says:

    Tertarik dengan paragraf pertama, arahannya kemasalah Pendidikan di negeri ini.
    Khusus membicarakan masalah pendidikan.
    Ketidaksesuaian kuliah dengan pekerjaan adalah kasus cukup umum sampai banyak orang menjustifikasi tidak perlu ada kesesuaian kuliah dengan pekerjaan.
    Tidak hanya terikat pada masalah klasik kaum wanita yang didepannya ada dua pilihan ..nanti menjadi ibu rumah tangga atau karier?
    Kuliah secara umum bisa dikatakan (pendapat pribadi) adalah investasi dan pembentukan pola pikir.
    Tidak masalah jika kemudian andai seorang wanita selesai S1 atau S3 pun fokus menjadi ibu rumah tangga.
    Malah diharapkan dengan bekal “investasi dan pola pikir” seorang “Doktor” wanita akan membentuk suatu keluarga yang sukses dunia akhirat.
    Kemudian bukan cuma menjadi IRT biasa tetapi juga menjadi sesorang Ibu rumah tangga yang luar biasa.

    • applausr says:

      luar biasa pemikirannya, coba saya carikan nanti seorang Ibu Rumah Tangga yang sekolahnya S3. Kira kira ada tidak, seorang Ibu rumah tangga tulen, dan tetap melanjutkan sekolah sampai s3? :)

  10. waduh,
    sepertinya kalo mau menjawab komen tentang ini aku bisa bikin postingan tersendiri nih mas…hahaha…

    Aku memutuskan keluar kerja sewaktu Kayla lahir karena merasa gak sanggup untuk ngebagi waktu nya mas. Dan aku sangat kagum buat para wanita pekerja yang sanggup berbuat itu, karena aku sih udah pasti gak bisa…hahaha…

    Tapi bener sekali kata mas App, keuntungan jadi IRT adalah kita bisa fokus untuk melakukan hal yang disuka.
    Karena jujur aja, jadi Ibu adalah hal yang sangat menggetarkan..istilah nya mah..overwhelming…sehingga terkadang serasa ‘menenggelamkan’ diriku sebagai pribadi yang utuh..

    Kadang aku juga merasa butuh eksistensi sebagai pribadi sih.
    Ntar aku posting deh yah, pergulatan dan proses pencarian jati diriku setelah jadi seorang ibu…halah…*kalo lagi gak males tapinya*…hihihi…

    *tuh kan komen kepanjangan*…maapkanlaaah…

  11. pety puri says:

    setuju banget dah sama artikel di atas.
    aku, walau belum sepenuhnya memutuskan menjadi 100% IRT ketika menikah nanti, tetap punya cita2 untuk mengasuh anakku sendiri dan sebanyak mungkin meluangkan waktu untuk keluarga (minimal keluarga kecilku sendiri) :)

  12. jika ingin berkarir, wanita sekarang gak harus keluar rumah kok Bro. membuka usaha dari rumah sdh banyak di lakukan orang. tp emang sih tergantung daya tawar kadang2

    • applausr says:

      sekarang memang banyak sekali Ibu Rumah Tangga yang bisa bekerja di rumah. beberapa teman dekat saya, malah di suruh kerja di rumah saja. parttimer dengan gaji full time. :)

  13. yuniarinukti says:

    Sama seperti para mahasiswa itu, jadi IRT bukan cita-cita saya banget deh :D
    Hingga sekarang pun saya hanya bisa membayangkan saja bagaimana beratnya menjadi IRT. Tapi apapun pekerjaan IRT akan terasa ringan kalau dikerjakan dengan ikhlas tanpa embel-embel balasan :)

  14. yeye says:

    Saya memutuskan menjadi IRT 1bulan lalu krn pengen urus sendiri anak saya. Alhamdulillah walopun cape tapi seneng karena bisa urus sendiri tanpa bantuan ortu, saya ada pembantu tp hanya bantu pekerjaan rumah, pegang anak saya klo saya lg ada urusan diluar rumah atau mandi hehehe

  15. MyFA says:

    alhamdulillah, usia rumahtangga kami sudah berumur 13 thn, takterasa 1 dekade telah berlalu… dan selama itu pula saya komitmen sebagai nyonya rumah untuk anak dan suamiku :)

  16. Lalalinglung says:

    Jawabannya kembali ke diri si wanita itu masing-masing. kalo aku sih urusan pekerjaan yang bukan rumah tangga itu mungkin akan digeluti sebelum menikah. Ketika setelah menikah hendaknya diskusi dulu sama suami, kalo dia tidak menizinkan kita bekerja, yaaa di rumah aja. Lagian merawat anak sendiri lebih baik daripada dirawat orang lain. Kitanya susah payah ngelahirin, eh si anak jadi akrab sama pembantu. Ogah daaah. Apalagi masak untuk suami. kan lebih baik kita yang masakin bukan orang lain

  17. Lalalinglung says:

    Jawabannya kembali ke diri si wanita itu masing-masing. kalo aku sih urusan pekerjaan yang bukan rumah tangga itu mungkin akan digeluti sebelum menikah. Ketika setelah menikah hendaknya diskusi dulu sama suami, kalo dia tidak menizinkan kita bekerja, yaaa di rumah aja. Lagian merawat anak sendiri lebih baik daripada dirawat orang lain. Kitanya susah payah ngelahirin, eh si anak jadi akrab sama pembantu. Ogah daaah

  18. penuliscemen says:

    baca komen-komen di atas saya senang masih banyak mbak-mbak saya yang mau jadi ibu rumah tangga.
    Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau jadi ibu rumah tangga? Ibu Rumah Tangga yang pendidikannya udah sampe sarjana beda dong dengan ibu rumah tangga yang penddikannya sampe Sekolah menengah. Cara ngurus dan membesarkan anaknya pasti beda.
    Ibu Rumah Tangga kurang berkontribusi dalam kehidupan masyarakat? Justru lahirnya sebuah masyarakat yang baik adalah melalui didikan ibunya. Anak yang dibesarkan dengan baik oleh ibunya dengan baik, dengan menanamkan moral, tentu akan kelak setelah besar akan menjadi anak yang berguna dalam masyarakatnya. Jadi justru peran ibu sangat besar di masyarakat, menurut saya :)

  19. krismariana says:

    kalau aku, termasuk ibu rumah tangga nggak ya? “kantorku” di rumah, soalnya hehe.

    aku kenal seorang perempuan, anaknya satu. waktu kutanya, dia milih mau bekerja kantoran. aku tidak tahu sih apa pertimbangan dia. tapi kurasa karena dia ingin tetap punya penghasilan dan punya banyak kawan.

  20. Zizy Damanik says:

    Semua pilihan, punya kelebihan dan kekurangannya. Dalam hati, perempuan tentu ingin bisa mengurus anak sendiri, tp apabila (spt pula kata arman) kondisi tidak memungkinkan dia jadi ibu rt yg menunggu uang dari suami saja (mari kita kesampingkan dulu karir paruh waktu para ibu rt), tentu bila bekerja adalah pilihan, itulah yg harus diambil. Inang-inang di pasar, mereka irt tp juga jualan ikan asin di pasar agar anaknya bisa sekolah. Nenek2 pemulung di dekat rumah saya itu juga, dia jg harus bekerja, jadi pemulung, demi periuk. Sama halnya dgn buruh cuci paruh waktu, pagi-siang saat anaknya sekolah mereka kerja di rumah2, lalu siangan sedikit sdh di rumah utk menyiapkan makanan bagi suami dan anaknya.

    Semua adalah pilihan, dan terbaik atau tidak berpulang pada keadaan masing2.

  21. bangsaid says:

    Ternyata yg komen kebanyakan Ibu Rumah Tangga atau calonnya ya.
    Berbahagialah para ibu/ wanita yg mengabdikan dirinya sebagai istri di rumah :-)

  22. keke naima says:

    sy ibu rumah tangga.. Dulu gak pernah terpikir spt itu apalagi mamah sy juga bekerja, sy terinspirasi justru stlh melihat mertua sy..

    dan ketika sy memutuskan itu memang banyak yg melihat sebelah mata sih.. Sekolah tinggi kok jadi ibu rumah tangga, punya karir lagi bagus kok resign trus jadi ibu rumah tangga..

    tapi setelah sy jalanin, ternyata gak sia2 kok sy sekolah tinggi dan pada akirnya menjai ibu ruma tangga.. :)

  23. Masih ada kok IRT yang sejati jaman sekarang..
    Meski hanya segelintir orang yang mengabdikannya !

  24. Nchie Hanie says:

    Ngacuung !!
    Aku yang bercita-cita ingin menjadi ibu rumah tangga loh #setelah menikah dan punya anak pun resign.
    Dan alhamdulillah tercapai mengurus segalanya dengan tanganku sendiri, IRT pekerjaan yang sangat mulia hanya di bayar dengan cinta,jangan kira loh pekerjaan IRT lebih cape dari ngantor, ga berhenti2 kerjanya, makanya butuh melakukannya dengan ikhlas,dan menikmatinya..

    Ya bener apa kata arman IRT ato ibu bekerja dua2nya berisiko, tinggal bgemana kita menyingkapinya dan itu adalah pilihan hidup.

  25. Lidya says:

    aku bangga jadi ibu rumah tangga loh, satu bulan sebelum menikah sudah resign dari pekerjaanku. aku mengurus semua pekerjaan dirumah dengan 2 anak tanpa bantuan ART sama sekali dimulai dari rumah sampai antar jemput sekolah aku lakukan sendiri. Tidak dipungkiri smeua harus didukung penuh oleh suami yang mau membantu pekerjaan rumah juga. Pertama aku memang tidak nyaman kalau dibantu orang lain yang belum tentu pekerjaannya sesuai dengan hati. terkadang lelah dan kejenuhan melanda hehehe gaya. tapi masih bisa dihandle kok misalnya cape memasak bisa katering rumahan, cape mencuci atau menyetrika ada laundry kiloan.
    dengan tidak adanya ART anak-anak juga bealjar dispilin loh mainan diberereskan sendiri ini sangat membantu sekali pekerjaan ibu rumah tangga . Sampai mengajarkan anak belajar juga aku sendiri tanpa les, melihat hasilnya bagus puas sekali.
    aku juga menghargai ibu pekerja kok semua pilihan masing-masing kan harus bisa dipertangung jawabkan.

  26. LJ says:

    Ibu rumah tangga itu hebat, ibu bekerja yang berjuang memenuhi kebutuhan lahir batin untuk keluarga juga sangat hebat. Mahkluk perempuan di keluargaku semuanya bekerja, krn memang masih diperlukan untuk ikut mendukung keuangan keluarga masing-masing. Aku sangat setuju jika seorang perempuan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, karena pendidikan dan pengasuhan anak di rumah memang adalah segalanya.

  27. arman says:

    sebenernya emang di jaman serba edan ini serem ya ninggalin anak ke BS. walaupun bisa pasang cctv, tapi kalo sampe anaknya diapa2in kan udah terlambat…

    tapi ya kalo emang kondisi memaksa si ibu untuk bekerja ya apa boleh buat.. mau gak mau ya…

    sebenernya baik jadi ibu RT atau ibu bekerja, dua2nya sama berat. ada keuntungan dan ada yang dikorbankan… ya emang setiap keputusan selalu begitu kan ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>