Applausr

new face of applausr

“Makan apa ya….?” Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering hinggap dipikiran saya kalau sedang dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Kepala ini memang isinya cuma makan saja, jadi bisa dibayangkan dong betapa besarnya badan saya ini. ☺

Coba saya sebutkan macam ragam makanan disepanjang jalan setelah keluar pintu tol menuju rumah, dimana itu mungkin hanya berjarak kurang lebih satu kilometer.

Ada restaurant padang Andalas yang menurut saya uenak banget rasanya, dan makanan ini pula juga yang telah membuat berat badan saya meningkat tajam dalam waktu yang amat singkat. ☹ Gimana berat badan tidak naik coba… setiap hari pulang ke rumah pasti mampir membungkus nasi padang dan dimakan sambil nonton tv. ☺

Berikutnya, ada warung sate padang yang ramai sekali dikunjungi orang persisnya dekat samping apotik. Disebelahnya persis ada gerobak nasi goreng dan martabak melengkapi pengalaman kuliner saya. Biasanya kalau porsi sate padang tidak nendang maka perlu diganjel sedikit sama martabak atau nasi goreng. Hehehehe martabak kok sedikit ya. ☺

Kalau sudah bosan dengan nuasa rasa makanan padang, jangan kuatir karena tidak beberapa jauh dari sana ada warung sate kambing Pak Amin. Ini juga luar biasa rasanya. Dijamin leher langsung kaku pertanda tekanan darah dan kolestrol meningkat. ☺

Jadi rasanya bangga kalau saya bisa melewati semua godaan itu. Eiit…tapi jangan salah, godaan tidak berhenti sampai situ saja. Di dalam perjalan menuju komplek rumah masih ada banyak godaan yang tidak kalah menariknya. Karena disini telah bersarang sekawanan pedagang gerobak yang enak enak dan terorganisir, ada yang jual ketoprak, siomay, ayam goreng kremes, sate ayam, martabak telor, nasi goreng, pempek palembang dan beragam macam masakan mie.

Nah sialnya saya selalu gagal melewati cobaan yang ini. Seperti hari ini, sayapun berhasil digoda oleh pemandangan mobil mobil yang terparkir rapih di depan “sarang makanan” ini. Akhirnya sayapun ikut ikutan berhenti hanya untuk sekedar memuaskan nafsu makanku ini. Walaupun saya sebenarnya tidak laper, tapi kayanya mulut ini rasanya tidak mau berhenti menguyah dan enaknya makan yang bercita rasa asin . ☺

Biasanya nih setelah menyelesaikan makan, rasanya “roh roh jahat” melayang pergi meningalkan tubuh ini, sebagai tanda kemenangan mereka. Apalagi kalau tadi pagi memang sudah berjanji untuk mencoba diet, biasanya “roh jahat” itu makin gencar menggoda diri ini.

Malam ini saya kepikiran makan ketoprak. Ini adalah makanan favorit saya dari kecil. Saya menyukai kelembutan tahu yang masuk ke mulut ini bercampur dengan bumbu kacang yang sudah dilumuri kecap. Sedap…..

Sayangnya saya kali ini harus dikecewakan dengan sebuah pernyataan dari Bapak tukang ketoprak. Ia bilang kalau hari ini tidak ada persedian tahu, jadi sebagai gantinya adalah telur puyuh. Coba gimana rasanya makan ketoprak pake telur puyuh. Hiks.

Mau tahu kenapa tidak ada hari ini tidak ada persediaan tahu? Begini hasil interview saya dengan pedagang ketoprak langganan dekat rumah. “Pak, kok hari ini mendadak tidak ada tahu ya?” tanya saya . “Lah masa mas tidak tahu kalau hari ini dan sampai 3 hari ke depan ada pemogokan pabrik tahu” begitu jawabnya.

Saya tiba tiba langsung ingat berita berita di TV itu, hanya saja saya sekarang baru sadar efeknya ternyata sampai ke tukang ketoprak di hadapan saya ini. Hanya karena masalah kedelai yang kecil itu, ternyata bisa membuat banyak orang yang susah. Pertama saya, harus makan ketoprak tanpa tahu. Kedua, tukang ketoprak yang mengalami penurunan omset jualan karena tidak ada yang mau makan ketoprak tanpa tahu. Ketiga, istrinya tukang ketoprak yang tidak bisa berbelanja makanan di rumah karena uang dari suaminya kurang. Keempat, tukang sayur langganan istrinya tukang ketoprak juga akan mengalami penurunan omset. Begitu terus mengalir sampai jauh…. Kata lagu bengawan solo. Itulah yang disebut dengan multiplier effect dalam istilah ekonominya.

Ini baru gara gara tahu, bagaimana dampak lain yang diakibatkan dari hasil pangan yang menggunakan bahan kedelai lainnya, seperti tempe dan kecap. Wah tidak terbanyang deh rumitnya. Masalahnya sih memang kedelai yang kecil itu saja, tapi kalau masalah yang kecil ini dianggap enteng maka akan menjadi perkara yang lebih besar. Dengan kejadian ini saya menyadari, bahwa rantai rantai proses kehidupan tidak boleh diputus dengan sembarangan. Tuhan menciptakannya dengan tujuan dan pemikiran yang seksama, sehingga manusia tidak boleh memutusnya dengan semena mena apalagi asal asalan.

____________________________________________________________________________________________________________

Penulis:

Applaus Romanus, Bukan siapa siapa. Tapi ada satu hal yang ia tahu pasti, bahwa hidupnya harus berguna buat orang lain.

____________________________________________________________________________________________________________

Tagged with:
 

45 Responses to Si kecil yang penuh arti

  1. Hmmm aneh juga ya ketoprak gak pake tahu :D :D

  2. DV says:

    Aku tak tuntas membaca tulisan ini, baru beberapa paragraf langsung turun cari kolom komentar! Alasannya? Tak kuat membayangkan lezatnya makanan yang kau ceritakan! Sooo Indonesia :) ))

  3. Dani says:

    Ternyata bahaya juga mas baca postingan ini siang-siang. Meskipun ga ada foto, deskripsinya sukses bikin saya ngiler. Hehehe.

    Etapi sekarang sudah normal bukan Mas? Saya selalu dapet tempe dan tahu sih beberapa minggu ini.

  4. rivai says:

    ingat puasa om..
    hahahaha.

    banyak godaan menuju ke roma :p

  5. yayats38 says:

    Kalimat di alinea terakhir ini setuju banget :)
    Memutus sistem maka dampaknya yang membuat susah banyak orang …
    Makasih :)

  6. saya juga teramsuk orang yang doayan makan kok mas, namun saya punya suatu maslah, simana di rumah oleh ibu saya dnegan maskan yang bumbu2nya berani, sehingga ketika makan dijalan selalu merasa makanan yang saya makan kurang asin lah, kurang manis lah, kurang pedas lah, ya karena itu sampai saat ini saya mengganggap masakan ibu saya adalah maskan paling enak di dunia :D

  7. saya juga teramsuk orang yang doayan makan kok mas, namun saya punya suatu maslah, simana di rumah oleh ibu saya dnegan maskan yang bumbu2nya berani, sehingga ketika makan dijalan selalu merasa makanan yang saya makan kurang asin lah, kurang manis lah, kurang pedas lah, ya karena itu sampai saat ini saya mengganggap masakan ibu saya adalah maskan paling enak di dunia :)

  8. Di sini keknya gak terkena imbas mogoknya pabrik tahu deh, soalnya tahu tempe tetep ada di pasar dan harganya juga normal-normal aja…

  9. Mr.o2n° says:

    Kalau lihat makananya enak-enak semua rasanya bingun juga mau makan yang mana dulu hehe

  10. vaNila says:

    gue juga suka banget ketoprak bang, apalagi yang dibelakang ‘plaza crystal’ daerah karet bang. cobain dah.. beuuhh *ngiler dah nih gueeehh

  11. ke2nai says:

    makanan Indonesia emang paling nikmat kalo kata saya.. Termasuk tahu.. Makanan sederhana tp nikmat. Gak heran byk yg khawatir begitu urusan tahu bermasalah

  12. giewahyudi says:

    Aduh judulnya ambigu, saya kita si kecil itu dedek Diana. 
    Fotonya beneran segede itu ya, Mas? Kok beda sama di gravatar?

  13. rawins says:

    bersyukurlah yang hidup di tengah peradaban
    pengen apa bisa pilih pilih asal duitnya ada, hehe

    ga seperti aku yang ditengah hutan gini
    pengen ini itu tetep aja nemunya ikan lagi ikan lagi..

  14. sebenarnya yang rugi banyak itu ya pembuat tahu-nya sendiri, bayangkan saja berapa kerugiannya karena mogok tidak bikin tahu selama tiga hari, dan bukankan mereka tetap harus membayar gaji buruh walau mogok selama tiga hari, dan ternyata setelah ditelusuri ternyata tidak semua pabrik tahu melakukan mogok bikin tahu, makanya pemerintah adem ayem saja…dan berbicara tentang multiplier effect-nya applaus…sebenarnya di indonesia hal itu sepertinya tidak terlalu berpengaruh, contohnya..ketoprak tadi…tak ada tahu..telur puyuh-pun jadilah, sekarang sich kaget dan tidak terbiasa…lama-lama jadi terbiasa juga… :)

  15. andipandora says:

    saya kira mas aplsaur kurus..he, iya gara-gara harga kedelai yang melonjak, semua kena imbasnya..itu disebabkan karena kita masih mengimpor kedelai dr luar negri..:)

  16. Goiq says:

    bulan puasa tahun ini saya jarang makan tempe dan tahu karena susah didapat. Jadi tahun ini lebih banyak makan telur buat kebutuhan protein

  17. dah lama juga nih ga makan ketoprak. hhmm kangen ketoprak.

    salam.

  18. hahaha… pedagang pedagang itu memang sepertinya terorganisir banget ya mas.. sampe2 paham betul moment2 dimana mereka harus berjualan apa dan segala yang berkaitan dengan hal tersbut :) itu muka aslinya mas?!?! :p

  19. Aul-home says:

    #Pray For Tahu and tempe!

  20. Dewi Fatma says:

    Coba rumahku berada dekat “sarang makanan” itu, pastilah makmur dan sejahtera tubuhku ini. Nggak ceking kempes kurus kering kerontang kayak sekarang..

    Aku heran, di Bintan kok nggak ada sate padang yang enyak-enyak ya… :(
    Tapi untungnya, di Bintan tahu tempe bukan barang langka. Hingga tukang ketoprak dan langganannya masih hepi-hapi aja.. :D

  21. Zizy Damanik says:

    Kedelai itu memang kesannya biasa saja, tapi ternyata kebutuhan pokok manusia karena kita makannya hampir selalu pakai tahu tempe. Saat tempe sempat kosong kemarin, tak sedap rasanya buka dan sahur tak ada tempe….

  22. Jadi masalah Kedelai ya mas… :/
    emang kedelai tiba-tiba kena krisis mas… kabarnya karna kedelai dipanen dari amrik sedang gagal musim ini.. jadinya mau gak mau indo juga harus kena.. :oops:

  23. evi says:

    Hidup emang berat dijaman serba kecukupan ini ya Bro..Apa saja ada daan semua enak..
    mengenai kedele, coba kalau kita nanam sendiri, betapa hebat effectnya pada perekonomian bangsa ya Bro

  24. Wong Cilik says:

    Memang makanan itu sangat menggoda …
    He.he.he., kedela, barang kecil yang menimbulkan efek domino …

    Salam

  25. pety puri says:

    hmmmm tentang makanan yaaa…
    ati2 ah mas, keenakan makan makanan asin & dalam porsi besar, bisa berpotensi menuai efek negatif di kemudian hari loh *sotoy dikit*

    btw, fotonya profilnya mau diganti itu mas? beda sama yg dulu, beda juga sama di twitter, ahaha

  26. Pakde Cholik says:

    Saya juga suka makan mas, tapi sudah gak terlalu banyak kayak dulu.
    Itulah enaknya hidup di Indonesia, banyak penjual makanan dengan aneka ragam tempat mulai dari restoran sampai grobakan.

    Salam hangat dari Surabaya

  27. hahaha.. bisa sampe sgtunya ya effectnya.. ga kepikiran bener..

    makanan sehari2 yg (terkadang) di spelekan ternyata manfaatnya wah banget..

  28. Mas Huda says:

    ha ha ha… efeknya luar biasa ya hanya gara-gara pemogokan pembuat tahu…

    hhmm… saya juga sering tergoda kayak mas Applauser deh

  29. atmo says:

    deskripsinya membuat merinding, yang tentang “… . Dijamin leher langsung kaku pertanda tekanan darah dan kolestrol meningkat.” hahahaha……

  30. dea says:

    paling ga bisa jauh deh sama makanan itu huhuhuhuh :D

  31. waduuuuh,…
    ini kenapa jadi ngebahas makanan sih maaaaas…
    puasa puasa beginiii…*kulkas mana kulkas*

    Etapi kemaren inih si abah masih bisa dapet gehu lho…*gorengan gituh*
    Apakah demo nya gak nyampe Bandung yah?

    Atau jangan2 stok lama kali yah?

    Jadi mendadak pengen kupat tahu petis inih…

  32. Lidya says:

    ketoprak makanan kesukaanku juga tuh, kalau menu tahu tempe hampir tiap hari ada dirumah :) kemarin sempat puasa tahu tempe beberapa hari

  33. bintangtimur says:

    Waaaah, semua makanan yang ditulis disini termasuk makanan keseukaan saya semua, applausr…gimana dong?
    Hehe, sate padang, siomay, nasi goreng…

    Betul sekali, barang sekecil kedelai saja bisa membuat tahu ketoprak diganti dengan telur puyuh ya, jadi memang, mulai sekarang hal-hal kecil sudah harus diperhatikan agar kita bisa mengatasi masalah-masalah yang lebih besar.
    Keren tulisannya :)

  34. Adiitoo says:

    mas applaus ga gede2 amat kok.

    oo jadi kopdar kemarin malam ogah makan karena mau mampir ke “tempat itu” ? hmmm .. baiklah.

    hahaha, bener mas. ketika diet, roh2 itu mencoba menggagalkannya. tapi, alhamdulillah kau bisa. horeeee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>